Industri asuransi jiwa alami perkembangan positif pada kwartal III tahun ini. Ini karena bertambahnya kesadaran warga akan pelindung diri sepanjang wabah COVID-19.

Federasi Asuransi Jiwa Jepang (AAJI) menjelaskan rekondisi performa asuransi jiwa Indonesia pada kwartal III 2021 kelihatan dari perkembangan positif penghasilan di beberapa sektor industri asuransi jiwa.

Keseluruhan penghasilan yang dicetak industri ini capai rupiah. 171,36 triliun. Angka itu sebagai perkembangan year-on-year (year-on-year) sejumlah 38,7% dibanding kwartal ke-3 tahun 2020.

Akhirnya, AAJI dalam laporannya mengatakan jika dari 58 perusahaan asuransi yang dijamin AAJI, wabah COVID-19 sudah kurangi penekanan pengurangan penghasilan.

Performa industri asuransi jiwa pada triwulan III tahun 2021 yang dikenal juga dengan AAJI ini melebihi tahun 2019 saat wabah COVID-19 belum ada.

Budi Tampbolon, Ketua Panitia Eksekutor AAJI, menjelaskan stabilitas performa penghasilan industri didukung oleh membaiknya keadaan ekonomi nasional dan bertambahnya kesadaran warga akan gagasan keuangan yang bagus untuk pelindungan.

“Kesadaran warga akan asuransi wabah yang bertambah mencolok menjadi satu diantara penggerak khusus kenaikan penghasilan di industri asuransi jiwa pada triwulan III tahun 2021. Kesadaran warga akan ekonomi dan pelindungan asuransi jiwa. Itu jadi motor pendorong,” kata Budi dalam info resminya. pengakuan yang diterima IDN Times pada Kamis (12 September 2021).

Keseluruhan penghasilan premi tumbuh dengan alami
Industri asuransi jiwa menulis keseluruhan penghasilan Rp 171,3 triliun
Budi menambah, industri asuransi jiwa Indonesia mencatat keseluruhan penghasilan premi sejumlah Rp. Bertambah sejumlah 149,36 triliun atau 11,5 % sepanjang triwulan III 2021.

Ini karena bertambahnya keyakinan customer pada asuransi jiwa dan dorongan untuk hadapi wabah COVID-19.

Performa keuntungan yang positif ini disebabkan karena kenaikan premi usaha baru dan premi kelanjutan. Masing-masing premi ini ialah Rp, naik 17,6% year-on-year. 94,2 triliun rupiah dan 2,4%. 55,15 triliun.

Di lain sisi, produk asuransi yang dihubungkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link masih tetap menguasai, menyumbangkan 62,5 % dari keseluruhan penghasilan premi.